FITRAH

A. Dasar Islam, Pengertian, Dimensi (Komponen) Potensi Fitrah Manusia.

Dalam pandangan  Islam, kemampuan dasar atau pembawaan disebut dengan “fitrah”. Secara etimologis, fitrah berarti sifat “sifat asal, kesucian, bakat dan pembawaan”. Secara terminologi, Muhammad Al-Jurjani menyebutkan, bahwa “fitrah” adalah : tabiat yang siap untuk menerima agama Islam.

Kata “fitrah” disebutkan dalam Al-Qur’an pada surah Al-Rum ayat 30 yang artinya sebagai berikut :

Artinya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS. Al-Rum: 30)

Bila diinterpretasikan lebih jauh, kata “fitrah” bisa berarti bermacam- macam, sebagaimana yang telah diterjemahkan dan didefinisikan oleh banyak pakar. Diantara arti-arti yang dimaksud adalah:

  1. Fitrah berarti “thuhur” (suci)
  2. Fitrah berarti “ Islam” (agama Islam)
  3. Fitrah berarti “tauhid” (mengakui keesaan Allah)
  4. Fitrah berarti “ikhlas” (murni)
  5. Fitrah berarti kecenderungan manusia untuk menerima dan berbuat kebenaran.
  6. Fitrah berarti “al-Gharizah” (insting)
  7. Fitrah berarti potensi dasar untuk mengabdi kepada Allah
  8. Fitrah berarti ketetapan atas manusia baik kebahagiaan maupun kesengsaraan, dsb.[2]

Dalam kaitannya dengan teori kependidikan dapat dikatakan, bahwa fitrah mengandung implikasi kependidikan yang berkonotasi kepada paham converagent. Karena “fitrah”, mengandung makna kejadian yang di dalamnya berisi potensi dasar beragama yang benar dan lurus (al-Din al-Qayyim) yaitu Islam. Namun potensi dasar ini bisa diubah oleh lingkungan sekitarnya.

Kalau melihat hadits Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berbunyi:

مَا المَوْلُوْدُ إِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ. (الحديث)

Artinya: “Tidak ada anak manusia dilahirkan kecuali atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanya mendidiknya menjadi yahudi atau nasrani” (H.R. Abu Hurairah).[3]

Komponen-komponen potensial fitrah:

  1. Kemampuan dasar untuk beragama Islam(ad-Dinul Qayyimah).
  2. Muwahhib (bakat) dan Qabiliyyat ( tendensi atau kecenderungan).
  3. Naluri dan kewahyuan (revilasi) bagaikan dua sisi dari uang logam.
  4. Kemampuan dasar untuk beragama sacara umum tidak hanya terbatas pada agama Islam.
  5. Dalam fitrah tidak terdapat komponen psikologis apapun.[4]

Diagram Fitrah

Diagram di atas menunjukan aspek-aspek psikologis fitrah yang saling pengaruh mempengaruhi antara satu aspek terhadap aspek lainnya. Aspek-aspek tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

  1. Fitrah adalah faktor kemampuan dasar perkembangan manusia yang terbawa sejak lahir yang berpusat pada potensi dasar untuk berkembang.
  2. Potensi dasar itu berkembang secara menyeluruh (integral) yang menggerakkan seluruh aspek-aspeknya yang secara mekanistis satu sama lain saling pengaruh mempengaruhi menuju ke arah tujuan tertentu.
  3. Aspek-aspek fitrah adalah merupakan komponen dasar yang bersifat dinamis, responsif terhadap lingkungan sekitar, termasuk pengaruh pendidikan.
  4. Komponen-komponen dasar tersebut meliputi :
  5. Bakat, suatu kemampuan pembawaan yang potensial mengacu kepada perkembangan kemampuan akademis (ilmiah) dan keahlian (profesional) dalam berbagai bidang kehidupan.
  6. Insting atau gharizah, adalah suatu kemampuan berbuat atau bertingkah laku dengan tanpa melalui proses belajar.
  7. Nafsu dan dorongan-dorongannya (drivers)
  8. Karakter atau watak tabiat manusia adalah merupakan kemampuan psikologis yang terbawa sejak kelahirannya.
  9. Hereditas atau keturunan adalah merupakan faktor kemampuan dasar yang mengandung ciri-ciri psikologis dan fisiologis yang diturunkan/diwariskan oleh orang tua baik dalam garis yang dekat maupun yang telah jauh.
  10. Intuisi adalah kemampuan psikologis manusia untuk menerima ilham tuhan.[5]

B. Urgensi Pendidikan (Pengaruh Lingkungan) Terhadap Aktualisasi Potensi Fitrah Manusia.

Berdasarkan UU No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS, dikemukakan tentang lingkungan pendidikan yaitu sebagai berikut :

  1. Satuan pendidikan melaksanakan kegiatan belajar yang dilakukan di sekolah atau di luar sekolah.
  2. Satuan pendidikan yang disebut sekolah merupakan bagian dari pendidikan yang berjenjang dan berkesinambungan.
  3. Saluran pendidikan luar sekolah meliputi keluarga, kelompok belajar, kursus dan satuan pendidikan yang sejenis.

Sebagai upaya pembentukan potensi umat, hendaknya umat Islam selalu membentuk hubungan tarbiyah Islamiyah, yaitu suatu lingkungan yang di dalamnya terdapat ciri-ciri keIslaman yang memungkinkan terselenggaranya pendidikan Islam yang baik, guna mengembangkan sumber daya manusia yang baik pula.

Perkembangan potensi anak didik, tidak akan pernah terlepas dari pengaruh lingkungan; baik itu positif maupun negatif. Lingkungan bisa bersifat positif apabila ia menjadi faktor penunjang dan pendorong berkembangnya potensi anak didik. Semisal anak yang memiliki potensi menjadi seorang qori dan ia tinggal di lingkungan para qori, bahkan mungkin keluarganya juga banyak yang menjadi qori, maka kemungkinan besar anak ini akan mudah dalam mengoptimalkan dan mengaktualisasikan potensi/bakatnya tersebut. Sedangkan  lingkungan akan bersifat negatif apabila lingkungan tersebut tidak dapat menunjang dan menjadi pendorong potensi seorang anak didik, bahkan lingkungan tersebut cenderung mengkerdilkan potensi anak didik. Sebagai contoh anak yang berpotensi jadi sebagai qori tetapi dia hidup di lingkungan penuh maksiat, dikekang kemiskinan dan tidak diperhatikan oleh orang-orang disekitarnya, maka ia akan sulit mengembangkan potensinya, kecuali jika ia berpindah dari lingkungan tersebut dan mencari guru yang mampu membimbingnya sehingga potensinya akan berkembang. Begitulah betapa vitalnya lingkungan dalam peranannya mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi anak didik.

C. Ilmu Dalam Tradisi Islam dan Klasifikasinya.

Akal menghasilkan ilmu dan ilmu berkembang dalam masa keemasan sejarah Islam. Supaya dapat dipelajari dengan baik dan benar, ilmu dapat diklasifikasikan (digolong-golongkan). Klasifikasi ilmu, karena itu merupakan salah satu kunci untuk memahami tradisi intelektual Islam. Sejak Al-Kindi di abad ketiga H/ kesembilan M hingga Syah Waliullah dari Delhi pada abad kedua belas H/ kedelapan belas M, generasi demi generasi sarjana muslim telah mencurahkan fikiran dan kemampuannya untuk membuat klasifikasi ilmu dalam Islam secara rinci.

  1. Menurut Al-farabi, klasifikasi dan perincian ilmu adalah sebagai berikut: (1) ilmu bahasa.(2) ilmu logika. (3) ilmu-ilmu matematis. (4) metafisika. (5) ilmu politik, ilmu fiqih dan kalam.
  2. Dalam berbagai karyanya al-Ghozali menyebut empat klasifikasi ilmu yaitu: (1) ilmu-ilmu teoritis dan praktis. (2) ilmu yang dihadirkan dan ilmu yang dicapai. (3) ilmu-ilmu keagamaan dan ilmu-ilmu intelektual. (4) ilmu fardhu ‘ain (kewajiban setiap orang) dan ilmu fardhu  kifayah ( kewajiban masyarakat)
  3. Qutubuddin al-Syirazi menyajikan klasifiaksi ilmu sebagai berikut: (1) Ilmu-ilmu filosofis atau kefilsafatan. (2) Ilmu-ilmu non filosofis, ilmu-ilmu ini diistilahkannya sebagai ilmu-ilmu relijius.[6]

Setelah klasifikasi ilmu tersebut, dalam uraian berikut ditelusuri sepintas lalu kedudukan ilmu dalam Al-Qur’an. Menurut Al-Qur’an seperti diisyaratkan dalam wahyu pertama, ilmu dibagi dua. Pertama adalah ilmu yang diperoleh tanpa upaya manusia, dinamakan ‘ilm ladunni. Dasarnya ada di ujung surat al-kahfi yang terjemahannya sebagai berikut: “Lalu mereka bertemu dengan hamba diantara hamba-hamba Kami, yang telah Kami anugrahkan kepadanya (sesuatu) dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami”. Ilmu ini disebut ilmu Ilahi. Kedua, ilmu yang diperoleh karena usaha manusia, dinamakan ilmu kasbi atau ilmu insani.[7]

Firman Allah dalam surat al-isra ayat 85 yang artinya: “Kamu tidak diberi ilmu (pengetahuan) kecuali sedikit”. Dari kutipan ayat diatas jelas bahwa pengetahuan manusia  amatlah terbatas. Walaupun ilmu yang diberi Allah sedikit, namun manusia harus memanfaatkannya untuk kemaslahatan (sesuatu yang mendatangkan kebaikan) manusia.[8]

Al-Qur’an memerintahkan untuk terus berupaya meningkatkan kemampuan ilmiahnya. Selain itu, perlu dikemukakan bahwa manusia memiliki naluri haus pengetahuan, sebagaimana dilukiskan Rasulullah dalam sunnahnya, “ada dua keinginan yang tidak pernah terpuaskan, yaitu keinginan menuntut atau mencari ilmu dan keinginan memperoleh atau mencari harta”.

D. Isi Pendidikan Islam.

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan pada ajaran Islam. Karena ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah, pendapat para ulama serta warisan sejarah, maka pendidikan Islam pun mendasarkan diri pada Al-Qur’an, As-Sunnah, pendapat para ulama (ijma’) serta warisan sejarah tersebut. Sejalan dengan hal itu, Islam juga memandang anak didik sebagai ‘abdullah yang berada dalam proses perkembangan dan pertumbuhan menurut fitrah (potensi) masing-masing. Mereka memerlukan bimbingan dan pengarahan yang konsisten menuju ke titik optimal kemampuan fitrahnya.[9]

Isi pendidikan Islam hendaknya selalu sejalan dengan pendidikan Islam yang didasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Menurut Muhammad ‘Athiyah Al-Abrasy, pendidikan budi pekerti adalah jiwa pendidikan Islam. Hal ini nampak sejalan dengan misi kerasulan Nabi Muhammad Saw. Yaitu untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Isi pendidikan Islam hendaknya juga dapat mengakomodir semua kebutuhan anak didik baik kebutuhan jasmani, maupun rohani. Seorang pendidik harus pandai menghubungkan antara materi yang semata bersifat pengetahuan dengan materi yang bersifat tauhid, sehingga anak didik bukan hanya memperoleh knowledge, tapi juga mendapat akhlak. Bagaimana menggunakan pengetahuan tersebut agar sesuai syari’at Islam. Al-Ghazali mengusulkan beberapa ilmu yang harus dipelajari di sekolah, yaitu :

  1. Ilmu Al-Qur’an dan ilmu agama, seperti fiqh, hadist dan tafsir.
  2. Sekumpulan bahasa, nahwu dan makhraj serta lafaz-lafaznya karena ilmu ini berfungsi membantu ilmu agama.
  3. Ilmu-ilmu fardhu kifayah, yaitu ilmu kedokteran, ilmu matematika, teknologi, dsb.
  4. Ilmu kebudayaan, seperti syair, sejarah dan bebrapa cabang filsafat.

Tidak berbeda jauh menurut Ibnu Khaldun isi pendidikan Islam yang harus diberikan kepada anak didik meliputi :

  1. Ilmu syari’ah dengan berbagai jenisnya.
  2. Ilmu filsafat, seperti ilmu alam dan tauhid (ketuhanan).
  3. Ilmu alat yang membantu ilmu agama, seperti ilmu bahasa dan gramatikal dsb.
  4. Ilmu alat yang membantu ilmu filsafat seperti ilmu manthiq.[10]

Omar Muhammad At-Taumy Al-Syaibani menyebutkan lima ciri kurikulum pendidikan Islam yaitu :

  1. Menonjolkan tujuan agama dan akhlak pada berbagai tujuannya, kandungan, metode, alat dan tekniknya bercorak agama.
  2. Meluaskan cakupannya dan menyeluruhkan kandungannya, kurikulum yang betul-betul mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran yang menyeluruh. Disamping itu juga, luas dalam perhatiannya. Ia (kurikulum) memperhatikan bimbingan dan pengembangan terhadap segala aspek pribadi pelajar dari segi intelektual, psikologis, sosial dan spiritual.
  3. Bersikap seimbang diantara berbagai ilmu yang dikandung dalm kurikulum yang beguna bagi pengembangan individual dan sosial.
  4. Bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran.
  5. Kurikulum yang disusun harus selalu disesuaikan dengan minat dan bakat anak didik.

Segala uraian diatas, apabila dilaksanakan secara konsisten oleh umat Islam, tentunya akan sangat memajukan sumberdaya manusia di kalangan umat Islam yang tidak hanya mengoptimalkan potensi teoritis tetapi juga praktis.[11]

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armai, Dr. MA., 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Pers

Arifin, M., Prof. H. M. Ed., 1994, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara

Daud Ali, Mohammad, Prof. H. S.H., 2005, Pendidikan Agama Islam, Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Nata, Abuddin, Prof. Dr. H. MA, 2005, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Gaya Media Pratama


[1] Armai Arief, Dr. MA., Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Ciputat Pers, 2002, Cetakan Pertama), hal. 3

[2] Ibid., hal. 6-7

[3] Ibid., hal. 8

[4] M. Arifin, Prof. H. M. Ed., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1994, cet. Ketiga), hal. 97-100

[5] Ibid., hal. 100-103

[6] Mohammad Daud Ali, Prof. H. S.H., Pendidikan Agama Islam, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2005), hal. 388-393

[7] Ibid., hal. 394

[8] Ibid., hal. 395

[9] Abuddin Nata, Prof. Dr. H. MA, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2005, cet. 1), hal. 131

[10] Ibid., hal. 225

[11] Ibid., hal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s