Intelegensi

A. Pengertian Inteligensi

Inteligensi atau kecerdasan, merupakan suatu kemampuan tertinggi dari jiwa makhluk hidup yang hanya dimiliki oleh manusia.

Perkataan inteligensi berasal dari kata lain ialah “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain (to organize, to relate, to bind together). Beberapa ahli psikologi memberikan beragam arti mengenai inteligensi, antara lain sebagai berikut :

Menurut Crow and Crow menyatakan bahwa istilah inteligensi digunakan untuk semua kegiatan yang dihubungkan dengan proses mental tinggi yang melibatkan beberapa aspek inteligensi antara lain : daya ingat, imajinasi, penalaran, mencatat, mengarang, membaca, menghadapi ujian, memecahkan suatu masalah berselisih paham, dan bentuk-bentuk kegiatan mental lainnya.

Menurut David Wechsler menyatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah untuk beradaptasi dan menguasai lingkungan secara efektif.[1]

Menurut William Stern, inteligensi ialah kesanggupan jiwa untuk dapat menyesuaikan diri dengan cepat dan tepat dalam situasi yang baru.

Menurut V. Hees, inteligensi ialah sifat kecerdasan jiwa. Menurut arah dan hasilnya inteligensi ada 2 macam;

  1. Inteligensi praktis, yaitu inteligensi untuk dapat mengatasi suatu situasi yang sulit dalam sesuatu pekerjaan, yang berlangsung secara cepat dan tepat.
  2. Inteligensi teoritis, yaitu inteligensi untuk dapat mendapatkan suatu pikiran penyelesaian soal atau masalah dengan cepat dan tepat.[2].

B.  Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inteligensi

Faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi ialah :

  1. Pembawaan. Ialah segala kesanggupan kita yang telah kita bawa sejak lahir, dan yang tidak sama pada setiap orang.
  2. Kematangan. Ialah saat munculnya sesuatu daya jiwa kita yang kemudian berkembang dan mencapai saat puncaknya. Tiap organ dapat dikatakan matang apabila telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing dan kesiapan untuk dikembangkan. Dalam keadaan seperti ini perkembangan inteligensi juga akan berkembang dengan baik.
  3. Pembentukan. Ialah segala faktor luar yang mempengaruhi inteligensi di masa perkembangannya.
  4. Minat. Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Interaksi ini lama-kelamaan akan menimbulkan minat terhadap sesuatu. Apa yang menarik baginya akan mendorong untuk berbuat lebih baik dan lebih baik.[3]
  5. Kebebasan, dimana manusia boleh memiliki metode-metode tertentu dalam menyelesaikan masalah, tak ada beban (tekanan) untuk berbuat mencapai sesuatu yang dapat menentukan kebutuhan sesuai dengan apa yang diminatinya.[4]

C. Ciri-Ciri Perbuatan Inteligensi

Suatu perbuatan dapat dianggap intelijen bila memenuhi beberapa syarat antara lain:

  1. Masalah yang dihadapi banayak sedikitnya merupakan masalah yang baru bagi yang bersangkutan.
  2. Perbuatan intelijen sifatnya serasi tujuan dan ekonomis. Maksudnya, untuk mencapai tujuan yang hendak diselesaikannya, dicarinya jalan yang dapat menghemat waktu dan tenaga.
  3. Masalah yang dihadapi, harus mengandung suatu tingkat kesulitan bagi yang bersangkutan.
  4. Keterangan pemecahannya harus dapat diterima oleh masyarakat.
  5. Dalam berbuat intelijen sering kali menggunakan daya mengabstraksi. Maksudnya ketika berpikir, tanggapan-tanggapan dan  ingatan-ingatan yang tidak perlu harus disingkirkan.
  6. Perbuatan intelijen bercirikan kecepatan.
  7. Membutuhkan pemusatan perhatian dan menghindarkan perasaan yang mengganggu jalannya pemecahan masalah.[5]

D. Pengukuran Inteligensi

Pengukuran inteligensi dilakukan dengan alat psikodiagnostik atau lebih dikenal dengan nama psikotes. Hasil tinggi rendahnya inteligensi yang diukur yaitu intelligence quotient (IQ). Orang yang pertama kali yang mempelopori hal ini adalah Sir Francis Galton, pengarang Heredity Genius (1869), kemudian disempurnakan oleh Alferd Binef dan Simon. Pada umumnya tes IQ mengukur kemampuan yang berkaitan dengan pengetahuan praktis seperti daya ingat (memory), daya nalar (reasoning), perbendaharaan kata dan pemecahan masalah (Vocabulary).

Berhubungan dengan masalah kemampuan itu para ahli psikologi mengembangkan berbagai alat ukur (tes inteligensi) untuk menyatakan tingkat kemampuan berpikir seseorang. Salah satu tes inteligensi yang terkenal adalah tes yang dikembangkan oleh Alferd Binef (1857-1911), psikologi berkebangsaan prancis yang kemudian tes Binef ini disempurnakan oleh Theodore Simon, sehingga tes tersebut terkenal dengan sebutan “Tes Binef Simon”.

Hasil tes inteligensi dinyatakan dalam angka yang menggambarkan perbandingan antara unsur kemampuan mental atau kecerdasan (Mental Age disingkat dengan MA), dan unsur- kelender (Chronological Age disingkat CA). pengukuran tingkat inteligensi dalam bentuk perbandingan ini di ajukan oleh William Stern (1871-1938) seorang ahli jiwa kebangsaan Jerman yang memperkenalkan istilah Intelligence Quotient (IQ) yang berarti perbandingan kecerdasan.[6]

Cara menentukan IQ seseorang

Misalnya seorang anak berumur 7 tahun diberikan daftar pertanyaan untuk anak umur 7 tahun tetapi tidak dapat mengerjakan semuanya dengan benar. Kemudian ia diberikan pertanyaan untuk umur 5 tahun, ternyata anak itu dapat menylesaikan dengan benar daftar pertanyaan bagi anak umur 5 tahun, maka perhitungannya sebagai berikut :

9 Tahun : +  −  −  −  −   = 1/5 Tahun

8 Tahun : +  +  −  −  −   = 2/5 Tahun

7 Tahun : +  +  +  −  −   = 3/5 Tahun

6 Tahun : +  +  +  +  −   = 4/5 Tahun

5 Tahun : +  +  +  +  +   = 5    Tahun

Umur inteligensi anak itu   = 7    Tahun

Jadi jika usia inteligensi (MA) anak tersebut adalah

5tahun + (4/5 + 3/5 + 2/5 + 1/5) tahun  = 5tahun + 10/5tahun = 5tahun + 2tahun = 7 tahun

IQ = MA  x 100 = 7   x 100 = 100

CA=7

Jadi IQ anak tersebut adalah 100.[7]

Keterangan :

  1. Tanda +  : Tanda jawaban yang benar
  2. Tanda : Tanda jawaban yang salah
  3. Bilangan-bilangan di sebelah kanan menunjukkan umur inteligensi
  4. Untuk setiap umur anak diberikan lima buah pertanyaan
  5. Untuk pertanyaan yang oleh anak dapat dijawab semuanya benar, maka umur inteligensinya adalah sama dengan umur anak yang sebenarnya sesuai dengan daftar pertanyaan untuk tes ini.

Dari hasil tes yang dilakukan kemudian dibagi lagi dalam beberapa kelompok inteligensi sebagai berikut :

  1. Pandai
    1. Genial IQ : 140 (Genius)
    2. Cerdas sekali IQ : 130-140
    3. Cerdas IQ : 110-130
      1. Normal (biasa) IQ : 90-100
      2. Bodoh (kurang pintar) hanya mencapai inteligensi sama dengan anak 15 tahun dengan IQ = 70-90
      3. Babel (debil) atau moron inteligensinya setingkat denga anak umur 10 tahun

IQ = 50-70.[8]

Ciri-cirinya :

–          Dapat makan dan berpakaian sendiri seperti orang normal

–          Dapat membersihkan tempat tidurnya; dapat disuruh melakukan pekerjaan sederhana.

–          Debil tingkat tinggi, dapat mengasuh bayi, memelihara ternak/ gembala; bekerja sebagai tukang kayu.

–          Perlu mendapatkan pendidikan khusus

  1. Dungu (imbesi) anak yang inteligensinya hanya mencapai seumur anak 7 tahun dengan IQ = 30-50.

Ciri-cirinya :

–          Dapat menghindarkan bahaya sehari-hari; dapat berbicara sedikit.

–          Tidak dapat belajar membaca; tidak dapat belajar bermacam-macam pekerjaan yang berfaedah.

–          Yang paling rendah; tidak dapat mengerjakan pekerjaan apapun.

–          Yang paling tinggi; dapat belajar mengerjakan kerajinan tangan di bawah pengawasan.

  1. Idiot adalah orang yang hanya mencapai inteligensinya setingkat dengan anak umur 2 tahun dengan IQ = kurang dari 30.[9]

Ciri-cirinya,

–          Mereka tidak mampu menghindarkan diri dari bahaya sehari-hari

–          Mereka tidak dapat mandi dan berpakaian sendiri, mereka tidak dapat makan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan lainnya sendiri.

–          Mereka tidak berbicara, dapat berbicara beberapa saja (perkataan yang bersuku satu seperti “mam”).

E. Kecerdasan Emosional

Menurut Wikipedia, Kecerdasan Emosi atau Emotional Intelligence (EI) menggambarkan kemampuan, kapasitas, keterampilan atau, dalam kasus EI sifat model, kemampuan diri, untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengelola emosi diri sendiri, orang lain, dan kelompok.[10]

Kecerdasan Emosi atau Emotional Quotation (EQ) meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya.

Kecerdasan emosi dapat juga diartikan sebagai kemampuan Mental yang membantu kita mengendalikan dan memahami perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk mengatur perasaan-perasaan tersebut.

Jadi orang yang cerdas secara emosi bukan hanya memiliki emosi atau perasaan-perasaan, tetapi juga memahami apa artinya. Dapat melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita, mampu memahami orang lain seolah-olah apa yang dirasakan orang itu kita rasakan juga.

Tidak ada standar test EQ yang resmi dan baku. Namun kecerdasan Emosi dapat ditingkatkan, baik terukur maupun tidak. Tetapi dampaknya dapat dirasakan baik oleh diri sendiri maupun orang lain. Banyak ahli berpendapat kecerdasan emosi yang tinggi akan sangat berpengaruh pada peningkatan kualitas hidup.

Setidaknya ada 5 unsur yang membangun kecerdasan emosi, yaitu:

  1. Memahami emosi-emosi sendiri
  2. Mampu mengelola emosi-emosi sendiri
  3. Memotivasi diri sendiri
  4. Memahami emosi-emosi orang lain
  5. Mampu membina hubungan sosial[11]

DAFTAR PUSTAKA

Azhari, Akyas, 2004, Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: Teraju,.

http://rinyyunita.wordpress.com/2009/01/25/kecerdasan-emosi/

http://www.motivasi-islami.com/belajar-kecerdasan-emosi/

Purwanto, M. Ngalim, 2003, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Sabri, Alisuf, 1993, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya,

Sujanto, Agus, 2004,  Psikologi Umum, Jakarta: Bumi Aksara


[1] Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta: Teraju, 2004, cet. Pertama), hlm. 142.

[2] Agus Sujanto, Psikologi Umum, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), Cet. 8, hlm. 66.

[3] Ibid., hlm. 67.

[4] Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, , hlm. 148.

[5] M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003, Cet. Ke-19), hlm. 54-55

[6] Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, , hlm. 143-144

[7] Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1993), Cet.1, hlm. 114.

[8] Akyas Azhari, Psikologi Umum dan Perkembangan, , hlm. 146

[9] Ibid., hlm. 147

[10] http://www.motivasi-islami.com/belajar-kecerdasan-emosi/

[11] http://rinyyunita.wordpress.com/2009/01/25/kecerdasan-emosi/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s